Oleh Dr Amir Faishol Fath
Sabar menjalani hidup dengan segala kondisinya, tidak tergesa-gesa mendapatkan hasil, dan tetap semangat menghadapi cobaan apa pun adalah sikap yang bersinergi dengan sunnatullah.
Lihatlah tanaman tidak langsung berbuah saat ditanam. Buahnya pun tak langsung masak saat muncul, bahkan harus menunggu berbulan-bulan untuk mencapai musim panen.
Sang janin dalam kandungan ibunya tak langsung lengkap anggota tubuhnya. Ia harus menunggu berbulan-bulan untuk menjadi sempurna. Allah SWT bahkan mengajarkan, penciptaan langit dan Bumi berlangsung selama enam hari. Padahal Allah bisa menciptakannya dalam sekejap hanya dengan mengatakan "kun fayakuun". Ini semua untuk mengajarkan pentingnya sifat sabar melalui berbagai proses hidup dan kehidupan.
Para ulama membagi sifat sabar dengan tiga wajah. Pertama, sabar menaati Allah. Mengapa? Sebab untuk menjalankan semua rukun Islam sangat membutuhkan kesabaran.
Shalat, misalnya. "Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa." (QS Thaha: 132).
"Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk." (QS Al-Baqarah: 45).
Allah SWT mengaitkan antara sabar dan shalat bahwa seseorang tak akan menegakkan shalat dengan benar tanpa kesabaran dirinya. Hidup bersama dengan orang-orang beriman, membantu mereka, berdakwah bersama mereka, membimbing mereka menaati Allah, juga membutuhkan kesabaran. Juga lihat QS Al-Kahfi: 28. Bahkan ada dua tugas pokok seorang Muslim yang keduanya saling berkait tak terpisahkan untuk mendapatkan kebahagiaan, yaitu saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.
Kedua, sabar menjauhi maksiat. Sabar mengendalikan gejolak nafsu jangan sampai terseret kepada dosa. Sabar menahan diri dari perhiasan dunia yang selalu menggodanya. Sabar meninggalkan harta haram yang menggiurkan. Sabar tidak mendekati jalan-jalan zina yang selalu memanggilnya.
Rasulullah SAW menyebutkan, ini adalah jalan ke surga. "Surga diselimuti dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, sementara neraka diselimuti dengan hal-hal yang menggiurkan."
Ketiga, sabar menjalani ujian Allah SWT bahwa hidup dan mati, senang dan susah, mudah dan sulit, semua adalah ujian. Banyak orang bertahan pada saat diuji dengan kesulitan, namun malah ia jatuh pada saat diuji dengan kemudahan. Banyak semut justru mati di dalam gula. Seekor kera tidak jatuh pada saat diembus angin kencang.
Malah ia jatuh pada saat diembus angin sepoi-sepoi. Sorang Mukmin harus selalu sabar pada saat diuji dengan kesulitan dan bersyukur pada saat diuji dengan kesenangan. Inilah sukses.
Wallahu a’lam bishshawab.
*sumber: ROL
@pkspiyungan
Tampilkan postingan dengan label Kutipan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kutipan. Tampilkan semua postingan
Jumat, 22 Agustus 2014
Sabtu, 16 Agustus 2014
5 Penyebab Dosa Kecil Berubah Menjadi Dosa Besar
Dosa kecil bisa berubah menjadi dosa besar karena 5 faktor berikut ini:
1. Dilakukan terus menerus
Dosa kecil yang dilakukan terus menerus akan berubah menjadi dosa besar. Bahkan, dosa besar yang pernah dilakukan lalu tidak dilakukan laki (taubat nasuha) lebih bisa diharapkan diampuni Allah daripada dosa kecil yang terus menerus dilakukan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لا صغيرة مع الإصرار، ولا كبيرة مع استغفار
“Tak ada dosa kecil selagi terus dikerjakan dan tak ada dosa selagi dimohonkan ampunan” (HR. Ad Dailami)
Dosa kecil yang dilakukan terus menerus ini diibaratkan oleh Imam Ghazali seperti tetes-tets air yang terus menerus menimpa batu, akhirnya batu itu pun berlubang. Padahal, jika air itu dikumpulkan dan langsung disiramkan ke batu tersebut, belum tentu mampu membuatnya berlubang.
2. Menganggap remeh dosa tersebut
Penyebab berikutnya yang membuat dosa kecil berubah menjadi dosa besar adalah menganggap remeh dosa tersebut. Selagi suatu dosa dianggap besar oleh hamba, maka dosa itu menjadi kecil di sisi Allah. Sebaliknya, jika manusia menganggap dosanya kecil dan remeh, maka itu menjadi besar di hadapan Allah. Seorang hamba menganggap dosanya besar karena hatinya ingin menghindari dosa itu dan tidak suka kepadanya. Sebaliknya, saat ia meremehkan dosa, hatinya condong kepada dosa tersebut dan tidak merasa benci terhadapnya.
“Sesungguhnya orang mukmin itu melihat dosa-dosanya seakan-akan sedang berada di kaki gunung,” kata Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Ia takut dosa itu akan menimpa dirinya. Namun orang durhaka memandang dosanya seperti seekor lalat yang hinggap di hidungnya. Ia beranggapan dengan menepiskan tangan saja, ia bisa diusir.”
Orang yang menganggap dosanya besar, ia melihat siapa yang didurhakainya. Sedangkan orang yang meremehkan dosa, ia tidak mempertimbangkan siapa yang didurhakainya.
Bilal bin Sa’ad rahimahullah berkata, “Janganlah kalian melihat kecilnya kesalahan, tetapi lihatlah keagungan Dzat yang kalian durhakai.”
3. Merasa senang, menceritakan dan membanggakan dosa
Dosa kecil bisa berubah menjadi dosa besar jika pelakunya merasa senang dengan dosa tersebut, bahkan membanggakannya. Misalnya seseorang yang setelah melakukan dosa kemudian mengatakan kepada orang lain, “Aku kemarin sudah melakukan ini dan itu, orang lain tidak ada yang berani seperti itu.”
Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda:
كُلُّ أُمَّتِى مُعَافًى إِلاَّ الْمُجَاهِرِينَ ، وَإِنَّ مِنَ الْمَجَانَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ ، فَيَقُولَ يَا فُلاَنُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا ، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ
“Setiap umatku diberi afiat kecuali orang-orang yang terang-terangan. Sesungguhnya yang termasuk terang-terangan adalah jika seseorang melakukan suatu dosa pada malam hari, kemudian pagi harinya ia membuka dosa tersebut padahal Allah telah menutupinya. Dia berkata “Hai Fulan, semalam aku telah berbuat begini dan begini.” Allah telah menutupi apa yang ia lakukan malam itu, tetapi ia sendiri justru menyingkap tutupan Allah pada dirinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
4. Mengajak orang lain melakukan dosa serupa
Dosa kecil berubah menjadi dosa besar jika pelakunya mengajak orang lain untuk melakukan hal serupa. Ia tidak hanya berbuat dosa sendiri, tapi malah mengkampanyekan dosa dan membujuk orang lain melakukan dosa tersebut. Inilah bahayanya menjadi pelopor dosa.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا
“Barangsiapa menyeru kepada kesesatan, maka ia memperoleh dosa sebagaimana dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa orang tersebut sedikitpun.” (HR. )
5. Jika yang melakukannya adalah ulama
Meskipun amal buruk atau kemaksiatannya sama, nilai dosa ulama lebih besar daripada orang awam. Sebab, ulama telah mengetahui perkara tersebut dengan jelas, betapa dosanya, kepada siapa ia berdosa, bahayanya bagi agama, dan seterusnya.
Wallahu a’lam bish shawab. [Abu Nida, disarikan dari Minhajul Qasidin]
Dikutip dari : bersamaDakwah
1. Dilakukan terus menerus
Dosa kecil yang dilakukan terus menerus akan berubah menjadi dosa besar. Bahkan, dosa besar yang pernah dilakukan lalu tidak dilakukan laki (taubat nasuha) lebih bisa diharapkan diampuni Allah daripada dosa kecil yang terus menerus dilakukan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لا صغيرة مع الإصرار، ولا كبيرة مع استغفار
Dosa kecil yang dilakukan terus menerus ini diibaratkan oleh Imam Ghazali seperti tetes-tets air yang terus menerus menimpa batu, akhirnya batu itu pun berlubang. Padahal, jika air itu dikumpulkan dan langsung disiramkan ke batu tersebut, belum tentu mampu membuatnya berlubang.
2. Menganggap remeh dosa tersebut
Penyebab berikutnya yang membuat dosa kecil berubah menjadi dosa besar adalah menganggap remeh dosa tersebut. Selagi suatu dosa dianggap besar oleh hamba, maka dosa itu menjadi kecil di sisi Allah. Sebaliknya, jika manusia menganggap dosanya kecil dan remeh, maka itu menjadi besar di hadapan Allah. Seorang hamba menganggap dosanya besar karena hatinya ingin menghindari dosa itu dan tidak suka kepadanya. Sebaliknya, saat ia meremehkan dosa, hatinya condong kepada dosa tersebut dan tidak merasa benci terhadapnya.
“Sesungguhnya orang mukmin itu melihat dosa-dosanya seakan-akan sedang berada di kaki gunung,” kata Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Ia takut dosa itu akan menimpa dirinya. Namun orang durhaka memandang dosanya seperti seekor lalat yang hinggap di hidungnya. Ia beranggapan dengan menepiskan tangan saja, ia bisa diusir.”
Orang yang menganggap dosanya besar, ia melihat siapa yang didurhakainya. Sedangkan orang yang meremehkan dosa, ia tidak mempertimbangkan siapa yang didurhakainya.
Bilal bin Sa’ad rahimahullah berkata, “Janganlah kalian melihat kecilnya kesalahan, tetapi lihatlah keagungan Dzat yang kalian durhakai.”
3. Merasa senang, menceritakan dan membanggakan dosa
Dosa kecil bisa berubah menjadi dosa besar jika pelakunya merasa senang dengan dosa tersebut, bahkan membanggakannya. Misalnya seseorang yang setelah melakukan dosa kemudian mengatakan kepada orang lain, “Aku kemarin sudah melakukan ini dan itu, orang lain tidak ada yang berani seperti itu.”
Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda:
كُلُّ أُمَّتِى مُعَافًى إِلاَّ الْمُجَاهِرِينَ ، وَإِنَّ مِنَ الْمَجَانَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ ، فَيَقُولَ يَا فُلاَنُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا ، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ
4. Mengajak orang lain melakukan dosa serupa
Dosa kecil berubah menjadi dosa besar jika pelakunya mengajak orang lain untuk melakukan hal serupa. Ia tidak hanya berbuat dosa sendiri, tapi malah mengkampanyekan dosa dan membujuk orang lain melakukan dosa tersebut. Inilah bahayanya menjadi pelopor dosa.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا
5. Jika yang melakukannya adalah ulama
Meskipun amal buruk atau kemaksiatannya sama, nilai dosa ulama lebih besar daripada orang awam. Sebab, ulama telah mengetahui perkara tersebut dengan jelas, betapa dosanya, kepada siapa ia berdosa, bahayanya bagi agama, dan seterusnya.
Wallahu a’lam bish shawab. [Abu Nida, disarikan dari Minhajul Qasidin]
Dikutip dari : bersamaDakwah
Minggu, 03 Agustus 2014
Simbol Islam, “Bendera ISIS”, dan Penyikapan Kita
Tema “Negara Islam di Irak dan Syam” (ISIS) saat ini sedang mencuat. Kemunculan organisasi ini juga diiringi dengan semakin terkenalnya sebuah simbol atau bendera hitam bertulis “La Ilaha illallah” dan “Muhammad Rasul Allah”. Hal tersebut karena organisasi ini gemar sekali menunjukkan simbol itu dalam setiap aktivitasnya. Kemunculan ISIS yang sering menggunakan bendera dan simbol tersebut secara tidak langsung membentuk opini bahwa: jika muncul bendera hitam bertuliskan “La Ilaha illallah” dan “Muhammad Rasul Allah” maka di situ ada ISIS atau ada pendukung ISIS.
Bagaimana seharusnya kita menyikapinya? Berikut ini analisis yang mudah-mudahan bermanfaat untuk pembaca.
Sejarah Bendera Rasulullah SAW
Dalam sejarah Islam, ada beberapa macam bendera. Di antaranya ada yang dinamakan liwa’ dan ada juga yang dinamakan rayah. Beberapa ulama membedakan antara keduanya.
Liwa’ adalah bendera yang dipasang di ujung tombak, tidak selalu dikibarkan, hanya dikibarkan dalam kondisi penting saja, dan berfungsi untuk menunjukkan posisi panglima perang.
Adapun rayah adalah bendera yang diberikan kepada pasukan, dipasang di ujung tombak dan selalu dikibarkan. Sebuah pasukan bisa mempunyai beberapa rayah.
Dalam sebuah hadits, Al-Barra’ bin ‘Azib RA ditanya tentang rupa bendera rayah di zaman Rasulullah SAW, beliau menjawab, “Warnanya hitam, bentuknya persegi, dan terbuat dari kain.” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi)
Ibnu Abbas RA mengatakan, “Bendera rayah di zaman Rasulullah SAW berwarna hitam, sedangkan bendera liwa’-nya putih. Tertulis di dalamnya kalimat La Ilaha illa Allah, Muhammad Rasulullah.” (HR. Abu Syaikh, Akhlaqun Nabi SAW).
Ada juga ulama yang mengatakan tidak ada beda antara rayah dan liwa’. Misalnya adalah Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani. Beliau mengatakan bahwa keduanya adalah sama. Keduanya dibuat untuk menunjukkan posisi panglima perang tertinggi, pemimpin pasukan, atau lainnya. Liwa’ di zaman Rasulullah SAW ada yang berwarna hitam, putih, dan coklat debu. Sedangkan rayah-nya berwarna hitam dan kuning.
Sejarah Stempel Rasulullah SAW
Di samping bendera, Nabi Muhammad SAW juga dikenal memiliki sebuah stempel yang sering digunakan dalam surat menyurat. Stempel tersebut bertuliskan “Allah”, “Rasul”, dan “Muhammad”. Beberapa kalangan membaca tulisan pada stempel tersebut dari bawah ke atas menjadi, “Muhammad Rasul Allah”.
Bagaimana seharusnya kita menyikapinya? Berikut ini analisis yang mudah-mudahan bermanfaat untuk pembaca.
Sejarah Bendera Rasulullah SAW
Dalam sejarah Islam, ada beberapa macam bendera. Di antaranya ada yang dinamakan liwa’ dan ada juga yang dinamakan rayah. Beberapa ulama membedakan antara keduanya.
Liwa’ adalah bendera yang dipasang di ujung tombak, tidak selalu dikibarkan, hanya dikibarkan dalam kondisi penting saja, dan berfungsi untuk menunjukkan posisi panglima perang.
Adapun rayah adalah bendera yang diberikan kepada pasukan, dipasang di ujung tombak dan selalu dikibarkan. Sebuah pasukan bisa mempunyai beberapa rayah.
Dalam sebuah hadits, Al-Barra’ bin ‘Azib RA ditanya tentang rupa bendera rayah di zaman Rasulullah SAW, beliau menjawab, “Warnanya hitam, bentuknya persegi, dan terbuat dari kain.” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi)
Ibnu Abbas RA mengatakan, “Bendera rayah di zaman Rasulullah SAW berwarna hitam, sedangkan bendera liwa’-nya putih. Tertulis di dalamnya kalimat La Ilaha illa Allah, Muhammad Rasulullah.” (HR. Abu Syaikh, Akhlaqun Nabi SAW).
Ada juga ulama yang mengatakan tidak ada beda antara rayah dan liwa’. Misalnya adalah Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani. Beliau mengatakan bahwa keduanya adalah sama. Keduanya dibuat untuk menunjukkan posisi panglima perang tertinggi, pemimpin pasukan, atau lainnya. Liwa’ di zaman Rasulullah SAW ada yang berwarna hitam, putih, dan coklat debu. Sedangkan rayah-nya berwarna hitam dan kuning.
Sejarah Stempel Rasulullah SAW
Di samping bendera, Nabi Muhammad SAW juga dikenal memiliki sebuah stempel yang sering digunakan dalam surat menyurat. Stempel tersebut bertuliskan “Allah”, “Rasul”, dan “Muhammad”. Beberapa kalangan membaca tulisan pada stempel tersebut dari bawah ke atas menjadi, “Muhammad Rasul Allah”.
Replika motif stempel Rasulullah SAW. (faculty.kfupm.edu.sa)
Langganan:
Postingan (Atom)



